Legenda Ombak Bono di Muara Sungai Kampar dan Muara Sungai Rokan, Provinsi RIAU

Bono merupakan gelombang atau yang biasa disebut dengan "ombak" yang terjadi di Muara Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, Indonesia. Ombak Bono Sungai Kampar ini termasuk suatu fenomena alam akibat adanya pertemuan arus sungai menuju laut dan arus laut yang masuk ke sungai yang diakibatkan pasang.

Biasanya Ombak Bono ini hanya akan terjadi di tepi pantai (laut) ataupun danau yang luas yang di akibatkan oleh perubahan arus air dan angin. Ombak yang berukuran cukup besar ini banyak dimanfaatkan oleh warga ataupun wisatawan untuk bermain selancar. Melihat orang berselancar di pantai mungkin hal itu yang sudah biasa, namun jika melihat orang berselancar di arus sungai adalah suatu hal yang sangat luar biasa.

Legenda Ombak Bono di Muara Sungai Kampar dan Muara Sungai Rokan, RIAU

Ombak Bono terbesar biasanya terjadi ketika musim penghujan, dimana debit air Sungai Kampar cukup besar yakni sekitar bulan September, Oktober, November dan Desember.

Bono ini sebenarnya ada di dua lokasi di Provinsi Riau yaitu satu di Muara (Kuala) Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan dan satunya lagi di Muara (Kuala) Sungai Rokan di Kabupaten Rokan Hilir. Masyarakat setempat biasanya menyebut Bono yang ada di Kuala Kampar sebagai BONO JANTAN karena lebih besar. Dan Bono yang ada di Kuala Rokan sebagai BONO BETINA karena lebih kecil dari Bono Muara Kampar.

Bono yang terdapat di kuala kampar tersebut berjumlah tujuh ekor, dimana bentuknya seperti kuda yang biasa disebut oleh masyarakat setempat dengan induk Bono. Dan pada musim pasang mati, bono ini akan segera pergi ke Sungai Rokan, di Rokan Hilir untuk menemui Bono betina. Kemudian Bono ini bersantai menuju ke selat Malaka.

Dan itulah sebabnya ketika bulan kecil dan pasang mati, Ombak bono ini tidak ditemukan di kedua muara sungai tersebut. Jika bulan sudah mulai besar, bono tersebut kembali ketempat masing-masing, lalu main memudiki sungai Kampar dan sungai Rokan seperti biasa. Semakin penuh bulan di langit, maka semakin gembira bono berpacu memudiki kedua aliran sungai itu (Sungai kampar dan Sungai Rokan).

Muara Sungai Bono yang disebut oleh penduduk denga KUALA KAMPAR memiliki ombak Bono yang cukup besar yakni dapat mencapai ketinggian 6 sampai 10 meter tergantung keadaan pada saat kejadian.

Menurut cerita Melayu atau kisah lama yang berjudul Sentadu Gunung Laut, setiap pendekar Melayu pesisir diharuskan dapat menaklukkan ombak Bono untuk meningkatkan keahlian bertarung mereka. Hal ini dirasa juga masuk akal karena mengendarai atau menunggangi Bono intinya adalah menjaga keseimbangan badan, jika dikaji di luar masalah mistis.

Pada zaman dahulu, dikarenakan masih ada sifat mistis di daerah tersebut, maka untuk mengendarai Bono ini harus dengan upacara Semah yang bisa dilakukan pagi atau siang hari. Upacara ini dipimpin oleh BOMO atau Datuk ataupun tetua kampung dengan tujuan agar pengendara Bono selalu mendapat keselamatan dan selalu dijauhkan dari segala marabahaya.

Selain itu, ternyata ada juga cerita mistis yang mungkin berhubungan dengan gelombang Bono ini yaitu cerita tentang BANJIR DARAH DI MEMPUSUN atau MEMPUSUN BERSIMBAH DARAH dan asal mula terbentuknya Kerajaan Pelalawan pada 1822 Masehi.

Pada saat ini masyarakat di sekitar Kuala Kampar menganggap Bono ini sebagai "sahabat alam". Penduduk yang berani akan mengendarai Bono dengan sampan yang mereka miliki. Mengendarai sampan di atas ombak Bono saat sekarang menjadi suatu kegiatan ketangkasan di daerah tersebut. Namun kegiatan ini memiliki risiko yang cukup tinggi karena ketika salah mengendarai sampan, maka sampan bisa dihempas oleh ombak Bono. Dan tak jarang sampan yang mengendarai Bono ini hancur berkeping-keping. (Bersambung)

0 Response to "Legenda Ombak Bono di Muara Sungai Kampar dan Muara Sungai Rokan, Provinsi RIAU"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel